Friday, 16 December 2016

Final Assignment (Diary in 2024, DAY 3)

SATURDAY, NOVEMBER, 23RD 2024

--Writing Mode at 06.00--
Hey. Pertemuan untuk diskusi Helicar Pro nanti diadain jam 8 pagi. Devon aku bangunin jam 7 aja. Cowok kan kalo siap-siap cepet. Lagian he’s not a morning person, suka ngomel-ngomel kalo harus bangun pagi. Aku mau masak sarapan dulu, makanan yang udah lama ditinggal tapi masih jadi salah satu favorit Devon, bacon and egg. Dia suka banget scrambled eggs.

Oiya, aku belum sempet cerita tentang kompor di hotel bintang seribu ini. Komporku elektrik, tapi nggak secanggih yang di sini, kompor produknya Whirlpool. Nih, aku tunjukkin fotonya.





Nggak tau juga itu panci kecil di sana ngapain. Hahahah. Mungkin Devon kemarin manasin sesuatu. Aku nggak pernah masak di sini, karna kan kita selama ini makan di restoran atas, atau di tempat-tempat makan lain. Aku masak dulu, Lex.

--Writing Mode at 07.15--
Devon lagi siap-siap. Dia tadi bangun dengan sendirinya, haha. Katanya karna nyium aroma masakannya. Padahal kamar dia jauh dari dapur. Dasar pembohong.

Oiya, belum sempet cerita tentang kompornya tadi. Kompornya ini ada otomatis nyala dan matinya. Kalo misalnya wadah masak ada isinya, dalam 10 detik kompor otomatis nyala. Trus entah sistemnya gimana, kalo udah mateng dia bakal mati sendiri. Apinya elektrik dan panasnya bisa diset sesuai kebutuhan. Dan yang paling utama, bisa disambungin internet dan operating system-nya pake Windows Home, yang dibuat khusus untuk kompor, meja kerja, dan kulkas. Hmm. Meja kerjaku pake sistem ini, tapi kulkas dan kompor masih rada jadul. Devon juga gitu, cuma meja kerjanya aja yang pake. Mungkin nanti di rumah kita yang baru, kita bakal beli barang-barang supermahal ini hahahah.
Eh, Devon udah siap. Kita berangkat dulu yaaa, ttyl.

--Writing Mode at 07.45--
Kita dianter ke ruang tunggu yang mewah bangetttt. Memang Polygrain menyajikan yang terbaik. Jadi open gate­-­nya jam 8 tepat. Di sini disediain snack-snack dan minuman. Bukan makanan berat. Nanti pasti ada waktunya, semacam prasmanan.
Itu Devon di sana mau ngambilin minum buat kita berdua, dan sekarang stay di sana, ngobrol sama beberapa pemuda berwibawa. He always fits in. Anywhere. Nambah koneksi juga, mumpung di NYC. Nah itu dia nunjuk-nunjuk aku. Hahahah. Udah aku lambai-lambai. Barusan mereka ketawa-ketawa. Dasar Devon. Pasti mereka tanya dia dateng sama siapa, trus bercandain aku karena keliatan ­­aneh, ngetik-ngetik di tempat penuh potensi. Ya udah aku ke mereka dulu, hahahah. Ttyl.

--Writing Mode at 10.20--
Kita dikasih waktu untuk berbincang-bincang dan istirahat untuk ngelakuin pekerjaan yang mungkin urgent selama 1 jam. Udah ditunjukin tadi, selama 2 jam, bagaimana Helicar Pro bekerja dan ada sesi sigkat tanya-jawab. Jika ada pertanyaan lain, akan ditanyakan pada sesi diskusi setelah jam istirahat. Kita tidak diperkenankan untuk mengambil gambar maupun video sepanjang waktu itu. Memang security systemnya-nya luar biasa kuat. Kalau ada yang ketahuan keluarin benda elektronik, bendanya langsung otomatis mati karna memang sudah di-set demikian. Kalau memang ada keperluan penting, orang tersebut bisa keluar dari ruang “percobaan”.

Devon keliling, ngobrol sama orang-orang. Abis aku update tentang Helicar Pro, aku langsung ikutan dia. Jadi, let’s make it fast. Intinya, Helicar Pro ini adalah alat transportasi udara baru yang bentuknya mirip kereta gantung tahun 2010-an, cuma kelihatan dari fisiknya kalo lebih canggih dan ringan. Helicar berisi maksimal 2 orang. Jadi bener-bener mirip helikopter, terbang tanpa lintasan. Hanya saja, Helicar tidak perlu dikemudikan. Jadi, di dalam otak komputernya, sudah diberikan alur jalan ke beberapa tempat pemberhentian Helicar. Tempat-tempat pemberhentian ini sementara hanya ada di 15 titik sibuk di NY, LA, dan Chicago. Tiga kota besar tersebut adalah tiga tempat awal diluncurkannya Helicar, yang direncanakan tahun depan, 20 Oktober 2025.

Rencananya, biaya untuk mengendarainya, dari satu titik ke titik lainnya berkisar dari $1-$5, bergantung pada jauhnya jarak tempat tujuan. Harga ini sudah ditekan sedemikian mungkin sehingga diharapkan akan banyak orang yang berpindah dari yang mengandalkan jalur darat menjadi jalur udara. Kecepatan maksimalnya adalah 130 km/jam. Pengendara bisa mengatur kecepatan, karena beberapa orang mual atau tidak kuat berada dalam kendaraan yang berjalan terlalu cepat.

Diskusi nanti dimulai pukul 11 dan berakhir pada jam 2 siang. Ada waktu 3 jam untuk para pembuat dan para undangan untuk mendiskusikan fakta-fakta ini. Diperkirakan, sekitar bulan Februari tahun depan, survei akan disebarkan online untuk mendapatkan keinginan masyarakat NY, LA, dan Chicago, atau tambahan-tambahan yang sekiranya diperlukan. Sejauh ini, dari yang sudah diuji cobakan, tidak ada hal yang menurutku perlu diperbaiki, jadi kemungkinan besar aku akan hanya menyimak. Hahahah. Oke deh, segitu dulu tentang Helicar. Mungkin ada hal-hal lain yang cukup menarik untuk kuceritakan setelah diskusi. Aku mau sama Devon. Waktu istirahat hanya sisa sekitar setengah jam. Ttyl.

--Writing Mode at 16.02—
Soooo... Nothing worth telling tentang Helicar Pro. Adanya, berita menyenangkan tentang Devon. Devon kan bagian dari tim game maker suatu game development yang mulai naik di pasaran. Belum bisa dibilang terkenal, tapi salah satu game buatannya ada yang sudah mencapai 1 million downloads. Oke lanjut. Jadi, tadi dia sempet ngobrol asik  sama salah satu CEO Supercell, kalo kamu mau tau, gamenya yang paling terkenal itu ‘Miner Rescue’ yang kira-kira keluar taun 2022 kemarin. Game-nya masih populer sampai sekarang. Game laris keduanya itu yang udah lama banget, tahun 2016-an, namanya ‘Clash of Clans’. Tugasnya CEO ini, namanya Andrew, itu adalah memilih dari sekian banyak konsep game yang dibuat para pembuatnya, mana yang pantas untuk dilanjutkan, dan mana yang tidak. Mereka ngobrol asik tentang itu tadi, dan Devon cerita tentang pekerjaannya, dan suka dukanya jadi pembuat game di Nickyra, tempat dia bekerja. Andrew minta kontak Devon, dan dari beberapa menit mereka ngobrol sepertinya Andrew bisa melihat potensi Devon yang aslinya jauh lebih besar dari apa yang orang-orang di Nickyra tahu.

Asllinya, Devon sama beberapa anggota timnya itu berniat untuk menaikkan nama Nickyra di pasaran, kemudian keluar dan membuat perusahaan baru milik mereka sendiri. Tapi dalam beberpa bulan terakhir, anggota-anggota timnya ada yang sudah merasa malas dan mengurungkan niatnya bergabung, sedangkan 2 diantara mereka sudah memiiki destinasi lain dalam pekerjaan mereka. Jadi, ini adalah kesempatan emas untuk Devon makin terkenal di mata para game developer yang merajai pasar. I’m so proud of him.

Untuk merayakan itu, Devon, yang tadinya mau ngajak makan di restoran hotel, sekarang pesen reservasi di Le Bernardin. Untung bawa gaun klasik yang cocok untuk makan di sana. Le Bernardin ini kan mewah banget. Eh Lex, aku mau istirahat dulu. Nanti sekitar jam setengah enam bangun, siap-siap, trus pergi ke Le Bernardin Uyeee! Ttyl.

--Speaking Mode at 18.35—
“Yuk, Fel. Udah setengah tujuh.”

“Iya, ayo. Udah bawa kunci mobilnya?”

“Oiya, sampek lupa. Ingetnya taxi hahahah.”

“Hayoo. Mana kuncinya?”

“Di atas coffeemaker nggak sih tadi? Coba bentar.”

“Ada?”

“Loh nggak ada. Di mana ya?”

“Ya udah pake TrackR aja, Von.”

“Hmm.”


--Writing Mode at 18.42—
Lah, ini di meja depanku.






Dasar Devon. Untung perusahaan rental car­-nya pake TrackR. Tiap kuncinya dipasang TrackR, supaya gampang carinya. Rasanya sebagian besar perusahaan-perusahaan ini semuanya udah pake sih. Jadi nanti kalo kita nggak inget taruh di mana, kita tinggal 'hubungi' TrackR-nya lewat aplikasi di gadget, nanti bendanya akan bunyi. Setiap TrackR diberi nama oleh pemiliknya, jadi mau manggil TrackR yang mana ya tinggal milih.

TrackR ini benar-benar bermanfaat untuk orang-orang lupaan kayak aku sama Devon. Oiya, di Wall Street kemarin kita beli langsung 10 biji TrackR. Berhubung di sana ada potongan besar-besaran, harganya dari $15 jadi $8/each.

Eh Devon udah maksa-maksa minta pergi hahahah. Udah jam...18.50. Kurang 10 menit. Ya memang restorannya ga jauh dari sini sih. Sekitar 5 menit aja dengan mobil. Okeeee, kita ngobrol lagi nanti abis dinner.

--Writing Mode at 22.29—
IM OFFICIALY DEVON HUTCHINS’S FIANCEE!! IM AWFULLY HAPPY I MIGHT BURST!!! I. AM. SO. FREAKING. HAPPY. HE PROPOSED TO ME TONIGHT. AND THIS IS SERIOUSLY HAPPENING!! IF ONLY YOU COULD WATCH ME, IM BEAMING LIKE A MADWOMAN. 

Jadi ternyata, dia memang udah rencana jauh-jauh hari. Rasanya sejak aku dikasih undangan dari Polygrain, dia udah mikir mau ngelamar di sini. SO ROMANTIC. 

Mari kita jauhkan masalah pernikahan, karena sekarang kita masih belum fokus ke sana. Tapi kemungkinan besar taun depan. Devon sekarang kan masih mau fokus ek karirnya, nanti kalo udah jelas dan steady, kita pasti cepet-cepet rencanain nikah.

Temen-temen SMA dan kuliah dulu banyak yang udah menikah. Malah ada yang sudah punya anak. Berhubung aku sama Devon sudah menjalin hubungan yang cukup lama, udah 5 taun lebih, jadi anak sudah sangat diharapkan oleh para orangtua kami. Yang pasti, nggak lama setelah nikah kita pasti punya anak. Amin. Hahahah.

Oiya. Dalam dua bulanan aku curhat ke kamu. Aku belum deskripsiin tentang kamu ya? Mungkin ini saat yang tepat. Mumpung Devon lagi telponan sama mamanya. Jadi, kamu, Lexi, adalah sebuah interactive diary, yang bisa membuat percakapan saat dibutuhkan. Tapi tidak bisa direkam karena satu dua hal yang menyangkut keinginan para pemakai. Lexi mempunyai sistem voice recognition yang bisa diatur, karakter-karakter mana dalam hidup si pemakai yang diinginkan untuk bisa masuk dalam ‘speaking mode’ Lexi. Tiap orang bisa memilih warna text-nya sesuai keinginan, dan semua tanda baca dilakukan secara otomatis.

Bahasa-bahasa yang disediakan adalah Bahasa Indonesia, English, France, Spanish, Chinese, dan Japanese. Jadi bisa di-set bahasa mana yang diinginkan, dan bahasa asing yang ada akan ditampilkan dalam font italic. Yang tidak bisa diubah adalah tipe curhat, hanya ‘Writing Mode’ dan ‘Speaking Mode’, sesuai dengan jam yang ada pada gadget. Bahasa-bahasa lain akan ditambahkan setelah sudah terhubung dengan Google Voiceover. Jadi untuk sementara, para pemakai hanyalah mereka yang berbicara sehari-hari dalam 6 bahasa yang tersedia.

Jadi pada intinya, Lexian dapat dijadikan sebagai teman ngobrol dalam menghadapi masalah, sekaligus untuk menyimpan kenangan-kenangan yang ingin disimpan dalam bentuk teks.

Sejauh ini, Lexian sudah dipakai oleh 6 juta lebih orang yang tersebar di seluruh dunia. Aku sebagai pembuat tunggal Lexian sangat bangga akan hal ini. Mungkin kedepannya aku akan bekerja sama dengan para pembuat aplikasi revolusioner lain untuk menghasilkan aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan pada zaman teknologi ini.

Oke, Devon udah selesai telpon. Kebiasaan kita tiap malem itu cerita-cerita. About everything. Jadi sampek sini aja hari ini. AKU BAHAGIA BANGET. Besok kita bakal jalan-jalan lagi, berhubung tugas kita di NY udah selesai. Jadi santai huahahah. CIAO!




Picture Sources:   www.trend-chaser.com
                          https://deals-techdirt.com

Wednesday, 14 December 2016

Final Assignment (Diary in 2024, DAY 2)

FRIDAY, NOVEMBER, 22ND 2024

--Speaking Mode at 11.45--
“Seriously, Von? WOW! This airport is damn fancy. Like seriously, Von. Hahahah! Ga nyangka banget lah bisa sampek sini, gila. Pas udah sampek aja rasanya aneh banget, ya gak sih? Rasa deg-degannya ini loh, Von. Gila.”

“Hahahah. Aku nggak kaget-kaget banget sih. Namanya juga kota yang ITnya termaju. Kayak kamu nggak tau ajaaa.”

“Iya sihh, tapi nggak nyangka aja.”

“Huuu. Aku ambil baggage dulu yaa. Tunggu sana aja.

Hmm.”

--Writing Mode at 11.54--
Hi, Lex. JFK keren banget. BANGEEEET. Harus banyak-banyakin foto nih. Wekekek. Selama dua tahun terakhir aku sama Devon keliling dunia, ga pernah liat tempat semaju, seluar biasa ini. Ya memang sih, kita nyarinya tempat-tempat buat relax dan nikmatin alam, tapi kan perbedaannya ga sejauh ini juga.

Ngambil koper dan barang bawaan lain antrinya cepet banget. Soalnya kan kita kayak ada kartu yang dikasih waktu pembelian tiket, untuk nyimpen di bagasi. Jadinya, kalo ngambil tinggal nunjukin kartu ke semacam scanner-nya, trus kopernya dikeluarin. Nggak kayak dulu, kopernya dibiarin jalan gitu di atas baggage conveyor. Meskipun ada penjagaan, tetap aja nggak seberapa aman, if I do say so myself.

Aku sama Devon kebiasaan bepergian, jadi kami seringkali bisa memperkirakan seberapa banyak kebutuhan yang perlu dibawa. Jadi pakaian-pakaian yang dibawa nggak akan nganggur dan dibawa pulang lagi dalam keadaan bersih. Apalagi kalo kita pergi dalam rangka explore alam, refreshing, atau mendekatkan diri satu sama lain, nggak perlu bawa banyak-banyak nice outfits, karena toh we don't plan to impress anybody.

By the way, Devon kok lama ya. Biasanya 10 menit aja udah balik. Hmm, gak papa juga sih lama-lama duduk sini. Bandaranya bener-bener keren. Keliatan banget sekarang, gimana New York is on the top list of the most high tech cities in US. Mungkin dia juga ngeliatin sistem di sini. Hahahah. Devon kadang gitu. Dia suka cermat merhatiin sesuatu yang buat dia kagum.

Nah, itu dia balik. Hmm, liat dia bawa diri. That was the first thing I noticed when I first met him. Aku suka orang-orang yang percaya diri. Itu terlihat dari bagaimana mereka membawa diri. Dia tegas, yet luwes, dan kita yang lihat itu seolah-olah dia satu-satunya orang di sana. Atau cuma aku, ya? Hahahah, nggak kok. Banyak yang bilang begitu. Dan coba kamu bisa liat senyumnya.. SHIODJISNCOHSKAJKKDA. I sometimes find myself at a loss for words. Itu senyum khas dia buat aku. God, I love him.

--Speaking Mode at 12.13—
“Hey.”

“Hey. Barusan aku curhat ke Lexi tentang kamu.”

“Tentang apa hmm?”

About how much I love you.”

“Hmm masa? I love you the most.

“Hmm. Yukkk ke Peninsula. Ga sabar liat suite-nya, Von.”

--Speaking Mode at 12.28--
“Hey Lex, kita udah sampek. Von, fast train mereka sistemnya kok lebih bagus dari yang di Indo sih.”

“Hahahah. Iya. Katanya padahal udah disamain sama negara-negara Barat. Mungkin New York aja yang berlebihan.”

“Hahahahah mana ada berlebihan. Keren iya. Yuk ah, masuk.”

“Kata si koordinator acaranya, kita dikasih a Peninsula Suite, Lex. Katanya sih, itu kamar terbaik di sini. Di The Peninsula Hotel.”

“Di sini pake face recognition juga.”

“Iya, mari kita coba. Hmm, oke. Ayo, Von. Persiapkan dirimu memasuki salah satu suite termahal di NY. HAHAHAHAHAH.”

“Satuuuuuu, duuaaaa, tiga!”




“U W O W.”

“Oke, cukup nganga-nganganya. Dasar norak.”

“Hahahah! Sialan.”

“Ayo lah, kita istirahat dulu. Ini kan masih jam... hmm jam 1 kurang. Mau makan lagi?”

“Nggak ah. Tadi ayam cukup buat makan siang.”

“Tapi aku masih laperrr. Ayo coba restoran di atas.”

“Hmm. Yuk, mungkin ada dessert yang akan menyenangkan perut.”


--Writing Mode at 15.10--
The Peninsula Hotel keren, Lex. Fasilitasnya juga oke banget. Ada beberapa ruang untuk bersenang-senang. Ruang billiard, dan beberapa ruang dengan PS5. Kalo nggak salah liat tadi sekilas di layar dinding (nggak inget namanya apa, yang pasti ada screen di dinding isi pemberitahuan, informasi hotel, dll) ada 3 rooms, masing-masih isi 5 PS5. Ini PlayStation terbaru, kalo nggak salah inget keluar tahun 2020. Devon punya Xbox 3 di rumahnya, yang dia beli kira-kira 3 tahun lalu. Berarti tahun 2021. Aku sama Devon suka main Xbox pake VR di rumahnya. Devon canggih banget ya. Aku aja cuma pernah punya PS1, dulu waktu kecil hahah. Sekarang dia tidurrr. Kerjaannya tidur mulu.

Oiya, Lex. Restoran-restoran super mewah sekarang nggak pake pelayan untuk kasih menu dan segalanya yang dulu pelayan kerjain. Semua udah dibungkus teknologi. Jadi pertama masuk, kita disambut suara gitu, aku nggak seberapa ngerti tentang yang ini. Intinya disambut, trus kita ke layar pemesanan meja, trus dikasih pilihan mau ruang yang suasannya gimana. Tadi aku sama Devon pilih suasana biasa, mau ngeliat New York dari lantai 80. Untungnya bukan malem, jadi nggak keren-keren banget sampek kita ternganga. Hahahah. Tapi tetep bagus. Ok, skip. Trussss tadi masukin mau meja untuk 2 orang, trus dari tempat kita berdiri itu nyala lampu yang ngarahin kita ke meja. Kursinya otomatis, menyesuaikan posisi tubuh kita sama meja, dekat jauh, dan tinggi pendeknya. Abis itu diatas pangkuan keluar kain di atas tatakan kecil. Kayak dulu, biasanya pelayan naruh dinner napkin di atas pangkuan.

Habis duduk, keluar menunya ditengah meja, 1 hadap aku, 1 hadap Devon. Trus kita bisa milih, mau keluarin minum, semacam champagne, atau apapun yang biasanya disediain sebelum appetizer. Trus keluar pilihan, makan dengan menu lengkap (appetizer, main course, and dessert) atau custom (pilih sendiri). Berhubung aku sama Devon cuma nambah makan, bukan makan resmi atau semacanya, kita pilih custom. Dan begitulah. Kita pesen makan. Aku cuma pesen Caramel Cheesecake with Blabhblah I don’t remember, dan Devon, lagi-lagi, pesen Black Peper Rice something, pokoknya nasi sama daging. Hahahah. Pelayanan fancy gitu, harganya juga mahal bits.

By the way, mumpung Devon masih tidur, mari kita cerita tentang hubungan aku sama dia. Mulai dari mana yaaa... Hmm. Dari kita pertama ketemu deh. Kita pertama ketemu itu waktu aku semacam studi banding waktu kuliah. Hmm. Jadi keinget, sekarang Ubaya udah maju banget. Kalo nggak salah terakhir liat itu Ubaya masuk Top 100 Universities in the World. Kapan liatnya udah lupa, jadi nggak tau kalo sekarang di udah naik lagi. Ubaya Cuma satu dari berapa yaa... mungkin 1 dari 3 universitas swasta yang mendapat peringkat itu. Keren. Jadi bangga aku lulusan sana.

Ubaya udah buka kelas internasional yang title-nya diakui di seluruh dunia. Kalo nggak salah itu sekitar tahun 2022. Sayang ya, nggak waktu aku kuliah dulu. Hahaha. Kalo iya kan, dulu habis aku lulus aku bakal ditarik sana-sini. Tapi ya gimana, kan harus liat kondisi dulu juga.

Eh, lanjut ke pertemuan pertamaku sama Devon. Studi bandingnya dulu ke ITB. Intinya ketemu dia yang udah ambil skripsi. Aku umur 19, dia 21. Aku dulu suka cara dia ngomong, jalan, gerak, dan apapun yang dia lakukan. He seemed so sure of himself that had me questioning. I never saw anybody like him. Trus dia ngajak aku ngomong, aku kagum sama dia. Intinya dia ajak aku berteman, aku juga cocok sama dia, jadi kita deket. We’ve been best friends since then.

Lama-kelamaan kita ngerasa kalo kita udah nggak cocok lagi cuma bersahabat, so he officially asked me to be his gf on July, 27th 2019. I knew it’d happen, but I was still surprised. We were madly in love (it may sound so cheesy and everything, but it happened. And luckily, I only feltstill doit with him) and everything he did for me was priceless. We’ve been through a lot, since life doesn’t always work in our favor, and I sometimes wonder how lucky I am to have him by my side. We have our own ups and downs, but we never lose the string that put us together. I’d rather die than be without him. Well, that makes my life depended on him. Haha, no I’m not serious. Then again, no, I’m dead serious. Thinking about it makes me hard to breath. Wait, why do I feel like writing a romance novel? Hahahah.

Ok, cukup omongin ini. Lama-lama aku bikin buku, Lex. Kamu sih, nggak stop aku nulis. Buahahahah. Btw, aku jadi kepikiran umur. Kita sering ngungkit masalah pernikahan. Tapi selama ini memang kita belum siap. Belum siap untuk bentuk keluarga. Tapi, sekarang aku ngerasa udah siap, dan my feelings for Devon masih tetap, and I think it will never go. Jadi, kapan aja Devon ngerasa siap untuk ngelamar, aku pasti bakal siap nerima.

Eh, udah hampir 1 jam aku nulis. Ga kerasa. Udah jam 4 aja. Aku mau keliling New York!! Liat perbedaan sifat orang-orang sama teknologi di sini sama di Indonesia. Tapi kasian Devon, baru tidur 1 jam. Kalo gitu aku istirahat aja, trus siap-siap pergi.

Ttyl, Lex. Coba kamu rasain hawa New York waktu aku tidur. Huahahahaha.

--Writing Mode at 16.17--
Hey. Bentar lagi aku sama Devon mau jalan-jalan. Dia lagi siap-siap. Aku tinggal kamu di sini ya. Nanti kan aku juga ga bakalan buka-buka kamu waktu jalan nanti. Semoga aku bawa cerita-cerita menarik ya, daa!

--Writing Mode at 22.15--
HIIII, I’M BACK!! AND I’M IN THE BEST MOOD EVER! New York is so magical so far. Aku bener waktu bilang tadi siang pemandangan ga sebagus malam. Abis jalan-jalan, ke mall, jalan di sepanjang Broadway and Wall Street, beli benda-benda ga penting yang kita suka, yang mungkin besok-besok akan kita sesali (kemungkinan besar sih gitu), kita puas banget. Benda-benda itu sebagian benda elektronik berguna di hal-hal kecil dalam hidup, dan sebagian lagi hiasan dan pajangan-pajangan. Oleh-oleh bisa kita beli besok habis pameran Teleport, atau Minggu, atau bisa juga Senin. Kita pulang hari Selasa pagi, karena Devon ada kepentingan sama timnya di hari Kamis. Kebiasaan kita itu pulang 2 hari sebelum hari sibuk, biar seharinya full buat recovery. Yuk ah, aku sama Devon juga udah capek.

Oiya, Wall Street sama Broadway keren tots. Kita rencana ga lama ini bakal ke NY lagi. Karena 4 hari di kota sekeren ini nggak cukuupp. CIAO!



Picture source http://newyork.peninsula.com/

Final Assignment (Diary in 2024, DAY 1)

THURSDAY, NOVEMBER, 21ST 2024

--Speaking Mode at 08.00--
“Hai, Lex. Thanks ya, udah bangunin. Untung kemarin aku sempet bilang ke kamu buat bangunin aku jam 8 ini. Kalo nggak, bakalan ga sempet ke bandara deh. Hmm. Nggak nyangka ya, Lexian udah seterkenal, sepopuler sekarang. Jadi keinget, delapan tahun lalu aku mimpiin hal ini. Bener-bener anugerah dari Tuhan ya, mimpiku terwujud.

“Enaknya orang-orang kerja di bidang IT yang udah sukses, atau paling nggak seaku, itu nggak perlu bingung waktu tidur. Kita bisa tidur kapan aja seenak kita. Kecuali ada acara-acara khusus kayak sekarang. 

“BY THE WAY, udah jam 8.15 gimana sihhh! Pesawatnya kan jam 10.30. Entaran deh kalo aku udah siap aku lanjutin hmm.”

--Speaking Mode at 09.06--
“Haii, aku udah siap. Bentar, aku telpon Devon dulu. Harusnya dia udah sampek 5 menit lalu. Ehhhh, itu dia hahahah. Bentar, Lex.”

--Speaking Mode at 09.10--
“Okeee, udah jam 9.10 aja. Yuk, Devon juga udah siap.”

--Writing Mode at 09.40--
Kadang-kadang kalo mikir aneh juga ya. Di Indonesia sekarang transportasinya ga kalah sama negara-negara maju. Coba kemarin-kemarin, sebelum tahun 2020. Jauuuuhh banget. Waktu itu baru jalan di kota-kota besar aja. Sekarang, udah hampir di semua kota di Indonesia fast train dijalankan. Karakter orang-orang Indonesia sekarang juga udah nggak jauh berbeda sama orang-orang luar yang tertib dan disiplin. Udah setaralah kira-kira sama orang-orang Jepang yang terkenal baik.

Nah kan. Baru nulis dikit aja udah sampek Juanda. Ini masih jam 10 kurang. Hmm, ga kebayang besok-besok teknologi di dunia jadi apa. Aku nunggu aja di dalem, sekalian ngobrol-ngobrol sama kamu, Lex.

Setelah dipikir-pikir. Aku kan baru curhat sama kamu dalam dua bulan terakhir. Itupun nggak bener-bener niat hahah. Ayo kita ngobrol dalam setengah jam nunggu pesawat berangkat. 

Kamu kan nggak tau perjalananku jadi sesukses sekarang. Hebat juga ya, kalo dipikir. Aku baru 26, tapi uang hasil kerjaku udah berlimpah-limpah. Aku bisa beli apapun yang kumau. Beli rumah, bisa. Beli mobil lagi, bisa. Tapi itu urusan si Devon setelah kita nikah, hahahah. Masa pihak wanitanya yang beli rumah, hmm. Kalo mobil sih, sekarang udah punya yang aku mau, nggak perlu lah sampek ngoleksi mobil. Ga ada gunanya juga.
Dia sekarang lagi beli makan buat kita. Dulu aku mikir makanan di airport mahal banget, sekarang nggak. World is weird indeed. Hmm. Dia beliin pizza, masih aja jadi makanan favoritnya sampek sekarang. Kalo nggak aku ingetin, makan pagi, siang, malam, semua makan pizza. Nggak tau kenapa, aku bosen banget makan pizza. Padahal nggak sering aku makan. Soalnya gimana ya, pizza kan cuma roti, sama di atasnya ada topping-topping. Not my kind of food.

Anyway, ini tempat sampah di airport pakai robot yang harganya jutaan. Hahahah. Tempat sampah di rumahku aja udah mahal, ratusan ribu. Punyaku itu udah bisa ngolah sampahnya sendiri jadi serpihan-serpihan kecil yang bisa langsung ditimbun. Kalo tempat sampah airport ini bentuknya robot. Jadi tempat naruh sampahnya itu bentuknya kayak tangan, trus di dalam badannya ada tiga tempat, yang misahin plastik, kertas, dan organik. Sama kayak dulu sebelum tahun 2020, cuma sekarang kita ga perlu mikir-mikir lagi buat buang di bagian mana. Hmm, zaman cepat berubah.

Ngomongin soal teknologi, jadi pingin ngomongin yang dulu namanya laptop dan smartphone. Sekarang, desktop dan laptop itu sama, jadi satu bagian, udah nggak ada lagi komputer yang nggak bisa dibawa kemana-mana. Zaman-zaman akhir ini zaman pesatnya kemajuan teknologi. Laptop itu sekarang udah diganti dengan Tabuter. Komputer, sekalian layarnya, ukuran 10 inci, tanpa keyboard fisik. Keyboardnya dapat dimunculkan dari layar seperti sebuah proyeksi. 




Jadi sekarang udah nggak ada lagi yang jual keyboard fisik. Keyboard sekarang nggak ada yang mengalami masalah. Para gamers, programmers, atau siapapun yang suka merusak keyboardnya tidak perlu khawatir atau memiliki keyboard cadangan karena mereka hanya perlu memiliki alas yang enak sebagai tempat laser keyboard-nya. Sangat praktis. 

Sedangkan Penphone, pengganti yang dulu disebut smartphone, berbentuk persis seperti bolpen biasa, yang kemudian layarnya dimunculkan menggunakan salah satu tombol di handle-nya. Layarnya bukan dari kaca, hanya seperti laser keyboard yang ditampilkan seperti projektor, tanpa benda fisiknya. Para orang tua sekarang sudah tidak gaptek lagi seperti dulu. Mereka seolah-olah dituntut untuk bisa menguasai gadget zaman sekarang. Toko-toko, restoran, dan semua tempat-tempat usaha sekarang sudah ada di Google Map, yang dengan luar biasa masih berjaya sampai sekarang, sehingga mereka dapat dikontak secara online. Sudah jarang sekali orang atau minimarket-minimarket yang menjual pulsa elektrik, seperti pada tahun 2010-2020, yang aku masih ingat waktu itu Alfamart dan Indomaret jual. 

Penphone-ku sendiri termasuk Penphone termahal, buatan Apple, yang lagi-lagi dengan luar biasanya masih bertahan di pasar, bahkan makin dicari karena sistem security-nya yang sangat aman. Jadi heran juga kenapa dulu waktu masih sekolah, aku suka banget sama Android. Mungkin Android dulu berjaya soalnya banyak yang dijual murah, alias masih terjangkau, terjangkau sama tabungan anak-anak sekolahan macam aku dulu. Hmm, jadi kangen Xiaomiku yang dulu, hahahaha.

By the way, Lex. Memang waktu ga kerasa ngobrol sama kamu. Sekarang udah 10.10, ini Devon udah  nyari-nyari tiket kita. Hahahah. Dasar Devon, anak ceroboh. Dia suka banget kelabakan kayak gitu, kayak aku zaman kuliah dulu. Hahahah, lucu liat dia panik gitu. Tiketnya kan di aku. Hahahahah, coba kamu bisa liat dia sekarang. Dia kan tadi kasih aku karena takut di dia ketinggalan atau keselip di mana gitu. Nah, abis ini pasti dia sadar. Coba kamu denger dia ngomong.

--Speaking Mode at 10.13--
“Heeey, aku baru inget. I gave you the tickets, didn’t I? Ah dasar kamuuu, dari tadi aku panik nyariin, kamunya diem aja. Dasarrrrr!” 

“Hahahahah salahmu sendiri yee. Makanya jangan keburu panik.”

“Yaa kan aku lupa, babe.” 

“Ya jangan lupaan makanya.” 

“Ihh apa sih, orang kamu juga lupaan.”

--Writing Mode at 10.15--
Nah. Lucu kan, dia? Kita ini kadang-kadang kayak anak kecil. Salah satu adegannya itu ya sama kayak yang kamu tulis di atas. Makanya, gemes liat Devon kalo dia kayak gitu. Memang dia nyenengin. Kalo kamu hidup dari dulu, tahun berapa ya itu. Sekitar 2015-2017 gitu, udah lupa, ada tren “Find a guy who can do both”. Nah itu trus dijelasin, cowok yang bisa diajak fun bareng, sama yang bisa serius dan jagain kamu. Anugerah terindah lagi dari Tuhan, aku dikasih satu yang kayak gitu. Bener-bener match sama aku lahir dan batin. Menurut aku kita perfect. Hahahah. Kepedean ya. Hmm, nggak juga sih, pede itu baik. Sometimes. Udah ah, naik pesawat dulu yeee, talk to you later.

--Writing Mode at 10.28--
Garuda Indonesia dari tahun ke tahun fasilitas dan pelayanannya makin meningkat. Meskipun cuma economy class, karena aku dan Devon nggak terlalu suka ngabis-ngabisin uang dalam perjalanan kayak gini, fasilitas dan pelayannya luar biasa. Kursinya nyesuain kondisi badan penumpang, ada tombol buat nyalain alat pemijat di berbagai tempat, juga nggak panas. Yahh.. Perubahan ini udah cukup lama sih. Cuma udah lama nggak naik Garuda, jadi baru inget dan mau cerita. Hmm.

Oiya, sekarang Penphone nggak perlu dinyalain flight mode kayak dulu, dia otomatis nyala kalo memang diperlukan, kayak sekarang. Nanti ingetin aku buat kasih tau sekretarisku kalo udah sampek sana ya. Hmm. Udah mulai bergerak pesawatnya. Untung Devon bukan tipe orang yang takut naik pesawat. Kan ada tuh, orang yang berapa kalipun naik, tetap aja takut waktu take off.

Yang semakin bikin aku cinta mati sama Devon itu bagaimana dia bisa memimpin aku di banyak bidang. Salah satunya barusan, waktu kita berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan. Ini yang awalnya juga menjadi daya tarik dia waktu kami pertama bertemu.
Hmm, Devon mau ngobrol. Nanti kita lanjut ngobrol yaa. Dia kan prioritas. Hahahah. Ttyl.

--Writing Mode at 13.15—
Dasar Devon. Dia tidur sekarang. Kasian, kemarin kurang tidur. Padahal udah aku ingetin, kan mau bangun pagi. Dianya yang bandel, baca sampek tengah malam. Kayak aku biasanya ya. Kemarin malamnya lagi aku tidur jam berapa inget, Lex? Kalo nggak salah jam 1 pagi. Hahahah, keasikan baca novel. Itu masih unpublished, karena aku salah satu beta-reader Colleen.

Untungnya buat aku dan para bookworms lain, paperbacks and hardcovers still exist. Biarpun sekarang teknologi udah segini majunya, buku masih bertahan. Ya bukan beruntung juga sih, ini kami-kami para bookworms dari seluruh dunia yang mewujudkan. Sekitar tahun 2021, keberadaan paperbacks sudah hampir punah. Semua digantikan dengan buku digital,­ e-Book. Waktu itu buku cetak untuk sekolah, kuliah, dan referensi lain sudah tidak ada yang dijual dalam kertas. Hanya novel-novel dan majalah yang masih bertahan, meskipun sudah sekarat.

Puji Tuhan, jumlah bookworms tidak makin menurun sejalannya waktu. Meskipun tetap tidak banyak, mungkin hanya sekitar 25% dari total populasi manusia di dunia. Tapi tetap saja, 25% dari 6 miliar orang itu tidaklah sedikit. Karena petisi-petisi dan ajuan kami untuk tetap menghidupkan paperbacks makin lama makin meningkat, akhirnya mereka para penguasa di bumi (hahahahahah) mendengarkan kami. Tentu saja, keberadaan buku fisik ini tidak merusak ozon atau mengurangi oksigen blah blah blah seperti yang dituduhkan mereka yang tidak menghargai ajaibnya sebuah buku. Kertas-kertas yang dipakai untuk mencetak buku kan dari pohon-pohon tua yang dengan cepat digantikan dengan benih-benih pohon baru. 

Kalo ngomongin soal buku, aku bisa lanjut sampek besokpun nggak selesai. Memang passion-ku di dunia ini ada di dunia IT dan buku. Dunia buku sudah kutekuni sejak SMP, sedangkan IT baru saat aku menempuh kuliah di Ubaya. 


Eh Lex, aku jadi ikutan ngantuk. Liatin kamu terus selama berapa lama ini udahan. Sekarang jam... hampir jam 2 siang. Hmm ya udah, aku tidur duluu. Nanti kita lanjutin ngobrol, kalo emang bangun sebelum sampek. Huahahah.

--Writing Mode at 18.05—
Hey. Barusan dibangunin Devon suruh makan. Perjalanan kan one way sekitar 25 jam. Jadi perkiraan sampek hmm... jam 12an siang besok. Berarti dikasih makanan 3 kali, hahahah. Aku sama Devon suka makanan pesawat, nggak tau kenapa. Ini malem dikasih ayam lada hitam. Devon suka lauk-lauk lada hitam. Ya udah, nanti lanjut waktu udah sampek aja yaa. CIAO!




Picture source: https://www.youtube.com