Wednesday, 14 December 2016

Final Assignment (Diary in 2024, DAY 2)

FRIDAY, NOVEMBER, 22ND 2024

--Speaking Mode at 11.45--
“Seriously, Von? WOW! This airport is damn fancy. Like seriously, Von. Hahahah! Ga nyangka banget lah bisa sampek sini, gila. Pas udah sampek aja rasanya aneh banget, ya gak sih? Rasa deg-degannya ini loh, Von. Gila.”

“Hahahah. Aku nggak kaget-kaget banget sih. Namanya juga kota yang ITnya termaju. Kayak kamu nggak tau ajaaa.”

“Iya sihh, tapi nggak nyangka aja.”

“Huuu. Aku ambil baggage dulu yaa. Tunggu sana aja.

Hmm.”

--Writing Mode at 11.54--
Hi, Lex. JFK keren banget. BANGEEEET. Harus banyak-banyakin foto nih. Wekekek. Selama dua tahun terakhir aku sama Devon keliling dunia, ga pernah liat tempat semaju, seluar biasa ini. Ya memang sih, kita nyarinya tempat-tempat buat relax dan nikmatin alam, tapi kan perbedaannya ga sejauh ini juga.

Ngambil koper dan barang bawaan lain antrinya cepet banget. Soalnya kan kita kayak ada kartu yang dikasih waktu pembelian tiket, untuk nyimpen di bagasi. Jadinya, kalo ngambil tinggal nunjukin kartu ke semacam scanner-nya, trus kopernya dikeluarin. Nggak kayak dulu, kopernya dibiarin jalan gitu di atas baggage conveyor. Meskipun ada penjagaan, tetap aja nggak seberapa aman, if I do say so myself.

Aku sama Devon kebiasaan bepergian, jadi kami seringkali bisa memperkirakan seberapa banyak kebutuhan yang perlu dibawa. Jadi pakaian-pakaian yang dibawa nggak akan nganggur dan dibawa pulang lagi dalam keadaan bersih. Apalagi kalo kita pergi dalam rangka explore alam, refreshing, atau mendekatkan diri satu sama lain, nggak perlu bawa banyak-banyak nice outfits, karena toh we don't plan to impress anybody.

By the way, Devon kok lama ya. Biasanya 10 menit aja udah balik. Hmm, gak papa juga sih lama-lama duduk sini. Bandaranya bener-bener keren. Keliatan banget sekarang, gimana New York is on the top list of the most high tech cities in US. Mungkin dia juga ngeliatin sistem di sini. Hahahah. Devon kadang gitu. Dia suka cermat merhatiin sesuatu yang buat dia kagum.

Nah, itu dia balik. Hmm, liat dia bawa diri. That was the first thing I noticed when I first met him. Aku suka orang-orang yang percaya diri. Itu terlihat dari bagaimana mereka membawa diri. Dia tegas, yet luwes, dan kita yang lihat itu seolah-olah dia satu-satunya orang di sana. Atau cuma aku, ya? Hahahah, nggak kok. Banyak yang bilang begitu. Dan coba kamu bisa liat senyumnya.. SHIODJISNCOHSKAJKKDA. I sometimes find myself at a loss for words. Itu senyum khas dia buat aku. God, I love him.

--Speaking Mode at 12.13—
“Hey.”

“Hey. Barusan aku curhat ke Lexi tentang kamu.”

“Tentang apa hmm?”

About how much I love you.”

“Hmm masa? I love you the most.

“Hmm. Yukkk ke Peninsula. Ga sabar liat suite-nya, Von.”

--Speaking Mode at 12.28--
“Hey Lex, kita udah sampek. Von, fast train mereka sistemnya kok lebih bagus dari yang di Indo sih.”

“Hahahah. Iya. Katanya padahal udah disamain sama negara-negara Barat. Mungkin New York aja yang berlebihan.”

“Hahahahah mana ada berlebihan. Keren iya. Yuk ah, masuk.”

“Kata si koordinator acaranya, kita dikasih a Peninsula Suite, Lex. Katanya sih, itu kamar terbaik di sini. Di The Peninsula Hotel.”

“Di sini pake face recognition juga.”

“Iya, mari kita coba. Hmm, oke. Ayo, Von. Persiapkan dirimu memasuki salah satu suite termahal di NY. HAHAHAHAHAH.”

“Satuuuuuu, duuaaaa, tiga!”




“U W O W.”

“Oke, cukup nganga-nganganya. Dasar norak.”

“Hahahah! Sialan.”

“Ayo lah, kita istirahat dulu. Ini kan masih jam... hmm jam 1 kurang. Mau makan lagi?”

“Nggak ah. Tadi ayam cukup buat makan siang.”

“Tapi aku masih laperrr. Ayo coba restoran di atas.”

“Hmm. Yuk, mungkin ada dessert yang akan menyenangkan perut.”


--Writing Mode at 15.10--
The Peninsula Hotel keren, Lex. Fasilitasnya juga oke banget. Ada beberapa ruang untuk bersenang-senang. Ruang billiard, dan beberapa ruang dengan PS5. Kalo nggak salah liat tadi sekilas di layar dinding (nggak inget namanya apa, yang pasti ada screen di dinding isi pemberitahuan, informasi hotel, dll) ada 3 rooms, masing-masih isi 5 PS5. Ini PlayStation terbaru, kalo nggak salah inget keluar tahun 2020. Devon punya Xbox 3 di rumahnya, yang dia beli kira-kira 3 tahun lalu. Berarti tahun 2021. Aku sama Devon suka main Xbox pake VR di rumahnya. Devon canggih banget ya. Aku aja cuma pernah punya PS1, dulu waktu kecil hahah. Sekarang dia tidurrr. Kerjaannya tidur mulu.

Oiya, Lex. Restoran-restoran super mewah sekarang nggak pake pelayan untuk kasih menu dan segalanya yang dulu pelayan kerjain. Semua udah dibungkus teknologi. Jadi pertama masuk, kita disambut suara gitu, aku nggak seberapa ngerti tentang yang ini. Intinya disambut, trus kita ke layar pemesanan meja, trus dikasih pilihan mau ruang yang suasannya gimana. Tadi aku sama Devon pilih suasana biasa, mau ngeliat New York dari lantai 80. Untungnya bukan malem, jadi nggak keren-keren banget sampek kita ternganga. Hahahah. Tapi tetep bagus. Ok, skip. Trussss tadi masukin mau meja untuk 2 orang, trus dari tempat kita berdiri itu nyala lampu yang ngarahin kita ke meja. Kursinya otomatis, menyesuaikan posisi tubuh kita sama meja, dekat jauh, dan tinggi pendeknya. Abis itu diatas pangkuan keluar kain di atas tatakan kecil. Kayak dulu, biasanya pelayan naruh dinner napkin di atas pangkuan.

Habis duduk, keluar menunya ditengah meja, 1 hadap aku, 1 hadap Devon. Trus kita bisa milih, mau keluarin minum, semacam champagne, atau apapun yang biasanya disediain sebelum appetizer. Trus keluar pilihan, makan dengan menu lengkap (appetizer, main course, and dessert) atau custom (pilih sendiri). Berhubung aku sama Devon cuma nambah makan, bukan makan resmi atau semacanya, kita pilih custom. Dan begitulah. Kita pesen makan. Aku cuma pesen Caramel Cheesecake with Blabhblah I don’t remember, dan Devon, lagi-lagi, pesen Black Peper Rice something, pokoknya nasi sama daging. Hahahah. Pelayanan fancy gitu, harganya juga mahal bits.

By the way, mumpung Devon masih tidur, mari kita cerita tentang hubungan aku sama dia. Mulai dari mana yaaa... Hmm. Dari kita pertama ketemu deh. Kita pertama ketemu itu waktu aku semacam studi banding waktu kuliah. Hmm. Jadi keinget, sekarang Ubaya udah maju banget. Kalo nggak salah terakhir liat itu Ubaya masuk Top 100 Universities in the World. Kapan liatnya udah lupa, jadi nggak tau kalo sekarang di udah naik lagi. Ubaya Cuma satu dari berapa yaa... mungkin 1 dari 3 universitas swasta yang mendapat peringkat itu. Keren. Jadi bangga aku lulusan sana.

Ubaya udah buka kelas internasional yang title-nya diakui di seluruh dunia. Kalo nggak salah itu sekitar tahun 2022. Sayang ya, nggak waktu aku kuliah dulu. Hahaha. Kalo iya kan, dulu habis aku lulus aku bakal ditarik sana-sini. Tapi ya gimana, kan harus liat kondisi dulu juga.

Eh, lanjut ke pertemuan pertamaku sama Devon. Studi bandingnya dulu ke ITB. Intinya ketemu dia yang udah ambil skripsi. Aku umur 19, dia 21. Aku dulu suka cara dia ngomong, jalan, gerak, dan apapun yang dia lakukan. He seemed so sure of himself that had me questioning. I never saw anybody like him. Trus dia ngajak aku ngomong, aku kagum sama dia. Intinya dia ajak aku berteman, aku juga cocok sama dia, jadi kita deket. We’ve been best friends since then.

Lama-kelamaan kita ngerasa kalo kita udah nggak cocok lagi cuma bersahabat, so he officially asked me to be his gf on July, 27th 2019. I knew it’d happen, but I was still surprised. We were madly in love (it may sound so cheesy and everything, but it happened. And luckily, I only feltstill doit with him) and everything he did for me was priceless. We’ve been through a lot, since life doesn’t always work in our favor, and I sometimes wonder how lucky I am to have him by my side. We have our own ups and downs, but we never lose the string that put us together. I’d rather die than be without him. Well, that makes my life depended on him. Haha, no I’m not serious. Then again, no, I’m dead serious. Thinking about it makes me hard to breath. Wait, why do I feel like writing a romance novel? Hahahah.

Ok, cukup omongin ini. Lama-lama aku bikin buku, Lex. Kamu sih, nggak stop aku nulis. Buahahahah. Btw, aku jadi kepikiran umur. Kita sering ngungkit masalah pernikahan. Tapi selama ini memang kita belum siap. Belum siap untuk bentuk keluarga. Tapi, sekarang aku ngerasa udah siap, dan my feelings for Devon masih tetap, and I think it will never go. Jadi, kapan aja Devon ngerasa siap untuk ngelamar, aku pasti bakal siap nerima.

Eh, udah hampir 1 jam aku nulis. Ga kerasa. Udah jam 4 aja. Aku mau keliling New York!! Liat perbedaan sifat orang-orang sama teknologi di sini sama di Indonesia. Tapi kasian Devon, baru tidur 1 jam. Kalo gitu aku istirahat aja, trus siap-siap pergi.

Ttyl, Lex. Coba kamu rasain hawa New York waktu aku tidur. Huahahahaha.

--Writing Mode at 16.17--
Hey. Bentar lagi aku sama Devon mau jalan-jalan. Dia lagi siap-siap. Aku tinggal kamu di sini ya. Nanti kan aku juga ga bakalan buka-buka kamu waktu jalan nanti. Semoga aku bawa cerita-cerita menarik ya, daa!

--Writing Mode at 22.15--
HIIII, I’M BACK!! AND I’M IN THE BEST MOOD EVER! New York is so magical so far. Aku bener waktu bilang tadi siang pemandangan ga sebagus malam. Abis jalan-jalan, ke mall, jalan di sepanjang Broadway and Wall Street, beli benda-benda ga penting yang kita suka, yang mungkin besok-besok akan kita sesali (kemungkinan besar sih gitu), kita puas banget. Benda-benda itu sebagian benda elektronik berguna di hal-hal kecil dalam hidup, dan sebagian lagi hiasan dan pajangan-pajangan. Oleh-oleh bisa kita beli besok habis pameran Teleport, atau Minggu, atau bisa juga Senin. Kita pulang hari Selasa pagi, karena Devon ada kepentingan sama timnya di hari Kamis. Kebiasaan kita itu pulang 2 hari sebelum hari sibuk, biar seharinya full buat recovery. Yuk ah, aku sama Devon juga udah capek.

Oiya, Wall Street sama Broadway keren tots. Kita rencana ga lama ini bakal ke NY lagi. Karena 4 hari di kota sekeren ini nggak cukuupp. CIAO!



Picture source http://newyork.peninsula.com/

No comments:

Post a Comment