FRIDAY, NOVEMBER, 22ND 2024
--Speaking Mode at 11.45--
“Seriously, Von? WOW! This airport is damn fancy. Like seriously, Von. Hahahah! Ga
nyangka banget lah bisa sampek sini, gila. Pas udah sampek aja rasanya aneh
banget, ya gak sih? Rasa deg-degannya ini loh, Von. Gila.”
“Hahahah. Aku
nggak kaget-kaget banget sih. Namanya juga kota yang ITnya termaju. Kayak kamu
nggak tau ajaaa.”
“Iya
sihh, tapi nggak nyangka aja.”
“Huuu. Aku
ambil baggage dulu yaa. Tunggu sana aja.”
“Hmm.”
--Writing Mode at 11.54--
Hi, Lex. JFK keren banget.
BANGEEEET. Harus banyak-banyakin foto nih. Wekekek. Selama dua tahun terakhir aku sama Devon keliling dunia, ga
pernah liat tempat semaju, seluar biasa ini. Ya memang sih, kita nyarinya
tempat-tempat buat relax dan nikmatin alam, tapi kan perbedaannya ga
sejauh ini juga.
Ngambil koper dan barang bawaan
lain antrinya cepet banget. Soalnya kan kita kayak ada kartu yang dikasih waktu
pembelian tiket, untuk nyimpen di bagasi. Jadinya, kalo ngambil tinggal
nunjukin kartu ke semacam scanner-nya,
trus kopernya dikeluarin. Nggak kayak dulu, kopernya dibiarin jalan gitu di
atas baggage conveyor. Meskipun ada
penjagaan, tetap aja nggak seberapa aman, if
I do say so myself.
Aku sama Devon kebiasaan
bepergian, jadi kami seringkali bisa memperkirakan seberapa banyak kebutuhan
yang perlu dibawa. Jadi pakaian-pakaian yang dibawa nggak akan nganggur dan
dibawa pulang lagi dalam keadaan bersih. Apalagi kalo kita pergi dalam rangka explore alam, refreshing, atau
mendekatkan diri satu sama lain, nggak perlu bawa banyak-banyak nice outfits, karena toh we don't plan to impress anybody.
By the way, Devon kok lama ya. Biasanya 10 menit aja udah balik.
Hmm, gak papa juga sih lama-lama duduk sini. Bandaranya bener-bener keren. Keliatan
banget sekarang, gimana New York is on the top list of the most high tech cities
in US. Mungkin dia juga ngeliatin sistem di sini. Hahahah. Devon kadang
gitu. Dia suka cermat merhatiin sesuatu yang buat dia kagum.
Nah, itu dia balik. Hmm, liat dia
bawa diri. That was the first thing I noticed
when I first met him. Aku suka orang-orang yang percaya diri. Itu terlihat
dari bagaimana mereka membawa diri. Dia tegas, yet luwes, dan kita yang lihat itu seolah-olah dia satu-satunya
orang di sana. Atau cuma aku, ya? Hahahah, nggak kok. Banyak yang bilang
begitu. Dan coba kamu bisa liat senyumnya.. SHIODJISNCOHSKAJKKDA. I sometimes find myself at a loss for words.
Itu senyum khas dia buat aku. God, I
love him.
--Speaking Mode at 12.13—
“Hey.”
“Hey.
Barusan aku curhat ke Lexi tentang kamu.”
“Tentang apa
hmm?”
“About how much I love you.”
“Hmm masa? I love you the most.”
“Hmm.
Yukkk ke Peninsula. Ga sabar liat suite-nya,
Von.”
--Speaking Mode at 12.28--
“Hey
Lex, kita udah sampek. Von, fast train mereka
sistemnya kok lebih bagus dari yang di Indo sih.”
“Hahahah. Iya.
Katanya padahal udah disamain sama negara-negara Barat. Mungkin New York aja
yang berlebihan.”
“Hahahahah
mana ada berlebihan. Keren iya. Yuk ah, masuk.”
“Kata
si koordinator acaranya, kita dikasih a
Peninsula Suite, Lex. Katanya sih, itu kamar terbaik di sini. Di The Peninsula Hotel.”
“Di sini pake face recognition juga.”
“Iya,
mari kita coba. Hmm, oke. Ayo, Von. Persiapkan dirimu memasuki salah satu suite termahal di NY. HAHAHAHAHAH.”
“Satuuuuuu,
duuaaaa, tiga!”
“U W O W.”
“Oke, cukup nganga-nganganya. Dasar norak.”
“Hahahah! Sialan.”
“Ayo lah, kita istirahat dulu. Ini kan masih jam...
hmm jam 1 kurang. Mau makan lagi?”
“Nggak ah. Tadi ayam cukup buat
makan siang.”
“Tapi aku masih laperrr. Ayo coba restoran di atas.”
“Hmm. Yuk, mungkin ada dessert yang akan menyenangkan perut.”
--Writing Mode at 15.10--
The Peninsula Hotel keren, Lex.
Fasilitasnya juga oke banget. Ada beberapa ruang untuk bersenang-senang. Ruang billiard, dan beberapa ruang dengan PS5.
Kalo nggak salah liat tadi sekilas di layar dinding (nggak inget namanya apa,
yang pasti ada screen di dinding isi
pemberitahuan, informasi hotel, dll) ada 3 rooms,
masing-masih isi 5 PS5. Ini PlayStation terbaru, kalo nggak salah inget
keluar tahun 2020. Devon punya Xbox 3 di rumahnya, yang dia beli kira-kira 3
tahun lalu. Berarti tahun 2021. Aku sama Devon suka main Xbox pake VR di rumahnya.
Devon canggih banget ya. Aku aja cuma pernah punya PS1, dulu waktu kecil hahah.
Sekarang dia tidurrr. Kerjaannya tidur mulu.
Oiya, Lex. Restoran-restoran super
mewah sekarang nggak pake pelayan untuk kasih menu dan segalanya yang dulu pelayan
kerjain. Semua udah dibungkus teknologi. Jadi pertama masuk, kita disambut suara
gitu, aku nggak seberapa ngerti tentang yang ini. Intinya disambut, trus kita ke layar
pemesanan meja, trus dikasih pilihan mau ruang yang suasannya gimana. Tadi aku sama Devon
pilih suasana biasa, mau ngeliat New York dari lantai 80. Untungnya bukan
malem, jadi nggak keren-keren banget sampek kita ternganga. Hahahah. Tapi tetep
bagus. Ok, skip. Trussss tadi masukin mau meja untuk 2 orang, trus dari tempat
kita berdiri itu nyala lampu yang ngarahin kita ke meja. Kursinya
otomatis, menyesuaikan posisi tubuh kita sama meja, dekat jauh, dan tinggi
pendeknya. Abis itu diatas pangkuan keluar kain di atas tatakan kecil. Kayak
dulu, biasanya pelayan naruh dinner
napkin di atas pangkuan.
Habis duduk, keluar menunya
ditengah meja, 1 hadap aku, 1 hadap Devon. Trus kita bisa milih, mau keluarin minum,
semacam champagne, atau apapun yang
biasanya disediain sebelum appetizer. Trus
keluar pilihan, makan dengan menu lengkap (appetizer,
main course, and dessert) atau custom (pilih sendiri). Berhubung aku sama
Devon cuma nambah makan, bukan makan resmi atau semacanya, kita pilih custom.
Dan begitulah. Kita pesen makan. Aku cuma pesen Caramel Cheesecake with
Blabhblah I don’t remember, dan
Devon, lagi-lagi, pesen Black Peper Rice something,
pokoknya nasi sama daging. Hahahah. Pelayanan fancy gitu, harganya juga mahal bits.
By the way, mumpung Devon masih tidur, mari kita cerita tentang
hubungan aku sama dia. Mulai dari mana yaaa... Hmm. Dari kita pertama ketemu
deh. Kita pertama ketemu itu waktu aku semacam studi banding waktu kuliah. Hmm.
Jadi keinget, sekarang Ubaya udah maju banget. Kalo nggak salah terakhir liat
itu Ubaya masuk Top 100 Universities in the World. Kapan liatnya
udah lupa, jadi nggak tau kalo sekarang di udah naik lagi. Ubaya Cuma satu dari
berapa yaa... mungkin 1 dari 3 universitas swasta yang mendapat peringkat itu.
Keren. Jadi bangga aku lulusan sana.
Ubaya udah buka kelas
internasional yang title-nya diakui
di seluruh dunia. Kalo nggak salah itu sekitar tahun 2022. Sayang ya, nggak
waktu aku kuliah dulu. Hahaha. Kalo iya kan, dulu habis aku lulus aku bakal
ditarik sana-sini. Tapi ya gimana, kan harus liat kondisi dulu juga.
Eh, lanjut ke pertemuan pertamaku
sama Devon. Studi bandingnya dulu ke ITB. Intinya ketemu dia yang udah ambil
skripsi. Aku umur 19, dia 21. Aku dulu suka cara dia ngomong, jalan, gerak, dan
apapun yang dia lakukan. He seemed so
sure of himself that had me questioning. I never saw anybody like him. Trus
dia ngajak aku ngomong, aku kagum sama dia. Intinya dia ajak aku berteman, aku
juga cocok sama dia, jadi kita deket. We’ve
been best friends since then.
Lama-kelamaan kita ngerasa kalo
kita udah nggak cocok lagi cuma bersahabat, so
he officially asked me to be his gf on July, 27th 2019. I knew it’d happen, but
I was still surprised. We were madly in love (it may sound so cheesy and
everything, but it happened. And luckily, I only felt—still do—it with him) and
everything he did for me was priceless. We’ve been through a lot, since life
doesn’t always work in our favor, and I sometimes wonder how lucky I am to have
him by my side. We have our own ups and downs, but we never lose the string
that put us together. I’d rather die than be without him. Well, that makes my
life depended on him. Haha, no I’m not serious. Then again, no, I’m dead
serious. Thinking about it makes me hard to breath. Wait, why do I feel like
writing a romance novel? Hahahah.
Ok, cukup omongin ini. Lama-lama
aku bikin buku, Lex. Kamu sih, nggak stop aku nulis. Buahahahah. Btw, aku jadi
kepikiran umur. Kita sering ngungkit masalah pernikahan. Tapi selama ini memang
kita belum siap. Belum siap untuk bentuk keluarga. Tapi, sekarang aku ngerasa
udah siap, dan my feelings for Devon
masih tetap, and I think it will never go. Jadi, kapan aja Devon ngerasa siap untuk
ngelamar, aku pasti bakal siap nerima.
Eh, udah hampir 1 jam aku nulis.
Ga kerasa. Udah jam 4 aja. Aku mau keliling New York!! Liat perbedaan sifat
orang-orang sama teknologi di sini sama di Indonesia. Tapi kasian Devon, baru
tidur 1 jam. Kalo gitu aku istirahat aja, trus siap-siap pergi.
Ttyl, Lex. Coba kamu rasain hawa
New York waktu aku tidur. Huahahahaha.
--Writing Mode at 16.17--
Hey. Bentar lagi aku sama Devon
mau jalan-jalan. Dia lagi siap-siap. Aku tinggal kamu di sini ya. Nanti kan aku
juga ga bakalan buka-buka kamu waktu jalan nanti. Semoga aku bawa cerita-cerita
menarik ya, daa!
--Writing Mode at 22.15--
HIIII, I’M BACK!! AND I’M IN THE BEST MOOD EVER! New York is so magical
so far. Aku bener waktu bilang tadi siang pemandangan ga sebagus malam.
Abis jalan-jalan, ke mall, jalan di sepanjang Broadway and Wall Street, beli benda-benda ga penting yang kita suka, yang
mungkin besok-besok akan kita sesali (kemungkinan besar sih gitu), kita puas banget. Benda-benda
itu sebagian benda elektronik berguna di hal-hal kecil dalam hidup, dan
sebagian lagi hiasan dan pajangan-pajangan. Oleh-oleh bisa kita beli besok habis pameran Teleport, atau Minggu, atau bisa juga Senin. Kita pulang hari Selasa pagi, karena Devon ada
kepentingan sama timnya di hari Kamis. Kebiasaan kita itu pulang 2 hari
sebelum hari sibuk, biar seharinya full buat recovery. Yuk ah, aku sama Devon juga udah capek.
Oiya, Wall Street sama Broadway
keren tots. Kita rencana ga lama ini
bakal ke NY lagi. Karena 4 hari di kota sekeren ini nggak cukuupp. CIAO!
Picture source http://newyork.peninsula.com/
Picture source http://newyork.peninsula.com/

No comments:
Post a Comment