Wednesday, 14 December 2016

Final Assignment (Diary in 2024, DAY 1)

THURSDAY, NOVEMBER, 21ST 2024

--Speaking Mode at 08.00--
“Hai, Lex. Thanks ya, udah bangunin. Untung kemarin aku sempet bilang ke kamu buat bangunin aku jam 8 ini. Kalo nggak, bakalan ga sempet ke bandara deh. Hmm. Nggak nyangka ya, Lexian udah seterkenal, sepopuler sekarang. Jadi keinget, delapan tahun lalu aku mimpiin hal ini. Bener-bener anugerah dari Tuhan ya, mimpiku terwujud.

“Enaknya orang-orang kerja di bidang IT yang udah sukses, atau paling nggak seaku, itu nggak perlu bingung waktu tidur. Kita bisa tidur kapan aja seenak kita. Kecuali ada acara-acara khusus kayak sekarang. 

“BY THE WAY, udah jam 8.15 gimana sihhh! Pesawatnya kan jam 10.30. Entaran deh kalo aku udah siap aku lanjutin hmm.”

--Speaking Mode at 09.06--
“Haii, aku udah siap. Bentar, aku telpon Devon dulu. Harusnya dia udah sampek 5 menit lalu. Ehhhh, itu dia hahahah. Bentar, Lex.”

--Speaking Mode at 09.10--
“Okeee, udah jam 9.10 aja. Yuk, Devon juga udah siap.”

--Writing Mode at 09.40--
Kadang-kadang kalo mikir aneh juga ya. Di Indonesia sekarang transportasinya ga kalah sama negara-negara maju. Coba kemarin-kemarin, sebelum tahun 2020. Jauuuuhh banget. Waktu itu baru jalan di kota-kota besar aja. Sekarang, udah hampir di semua kota di Indonesia fast train dijalankan. Karakter orang-orang Indonesia sekarang juga udah nggak jauh berbeda sama orang-orang luar yang tertib dan disiplin. Udah setaralah kira-kira sama orang-orang Jepang yang terkenal baik.

Nah kan. Baru nulis dikit aja udah sampek Juanda. Ini masih jam 10 kurang. Hmm, ga kebayang besok-besok teknologi di dunia jadi apa. Aku nunggu aja di dalem, sekalian ngobrol-ngobrol sama kamu, Lex.

Setelah dipikir-pikir. Aku kan baru curhat sama kamu dalam dua bulan terakhir. Itupun nggak bener-bener niat hahah. Ayo kita ngobrol dalam setengah jam nunggu pesawat berangkat. 

Kamu kan nggak tau perjalananku jadi sesukses sekarang. Hebat juga ya, kalo dipikir. Aku baru 26, tapi uang hasil kerjaku udah berlimpah-limpah. Aku bisa beli apapun yang kumau. Beli rumah, bisa. Beli mobil lagi, bisa. Tapi itu urusan si Devon setelah kita nikah, hahahah. Masa pihak wanitanya yang beli rumah, hmm. Kalo mobil sih, sekarang udah punya yang aku mau, nggak perlu lah sampek ngoleksi mobil. Ga ada gunanya juga.
Dia sekarang lagi beli makan buat kita. Dulu aku mikir makanan di airport mahal banget, sekarang nggak. World is weird indeed. Hmm. Dia beliin pizza, masih aja jadi makanan favoritnya sampek sekarang. Kalo nggak aku ingetin, makan pagi, siang, malam, semua makan pizza. Nggak tau kenapa, aku bosen banget makan pizza. Padahal nggak sering aku makan. Soalnya gimana ya, pizza kan cuma roti, sama di atasnya ada topping-topping. Not my kind of food.

Anyway, ini tempat sampah di airport pakai robot yang harganya jutaan. Hahahah. Tempat sampah di rumahku aja udah mahal, ratusan ribu. Punyaku itu udah bisa ngolah sampahnya sendiri jadi serpihan-serpihan kecil yang bisa langsung ditimbun. Kalo tempat sampah airport ini bentuknya robot. Jadi tempat naruh sampahnya itu bentuknya kayak tangan, trus di dalam badannya ada tiga tempat, yang misahin plastik, kertas, dan organik. Sama kayak dulu sebelum tahun 2020, cuma sekarang kita ga perlu mikir-mikir lagi buat buang di bagian mana. Hmm, zaman cepat berubah.

Ngomongin soal teknologi, jadi pingin ngomongin yang dulu namanya laptop dan smartphone. Sekarang, desktop dan laptop itu sama, jadi satu bagian, udah nggak ada lagi komputer yang nggak bisa dibawa kemana-mana. Zaman-zaman akhir ini zaman pesatnya kemajuan teknologi. Laptop itu sekarang udah diganti dengan Tabuter. Komputer, sekalian layarnya, ukuran 10 inci, tanpa keyboard fisik. Keyboardnya dapat dimunculkan dari layar seperti sebuah proyeksi. 




Jadi sekarang udah nggak ada lagi yang jual keyboard fisik. Keyboard sekarang nggak ada yang mengalami masalah. Para gamers, programmers, atau siapapun yang suka merusak keyboardnya tidak perlu khawatir atau memiliki keyboard cadangan karena mereka hanya perlu memiliki alas yang enak sebagai tempat laser keyboard-nya. Sangat praktis. 

Sedangkan Penphone, pengganti yang dulu disebut smartphone, berbentuk persis seperti bolpen biasa, yang kemudian layarnya dimunculkan menggunakan salah satu tombol di handle-nya. Layarnya bukan dari kaca, hanya seperti laser keyboard yang ditampilkan seperti projektor, tanpa benda fisiknya. Para orang tua sekarang sudah tidak gaptek lagi seperti dulu. Mereka seolah-olah dituntut untuk bisa menguasai gadget zaman sekarang. Toko-toko, restoran, dan semua tempat-tempat usaha sekarang sudah ada di Google Map, yang dengan luar biasa masih berjaya sampai sekarang, sehingga mereka dapat dikontak secara online. Sudah jarang sekali orang atau minimarket-minimarket yang menjual pulsa elektrik, seperti pada tahun 2010-2020, yang aku masih ingat waktu itu Alfamart dan Indomaret jual. 

Penphone-ku sendiri termasuk Penphone termahal, buatan Apple, yang lagi-lagi dengan luar biasanya masih bertahan di pasar, bahkan makin dicari karena sistem security-nya yang sangat aman. Jadi heran juga kenapa dulu waktu masih sekolah, aku suka banget sama Android. Mungkin Android dulu berjaya soalnya banyak yang dijual murah, alias masih terjangkau, terjangkau sama tabungan anak-anak sekolahan macam aku dulu. Hmm, jadi kangen Xiaomiku yang dulu, hahahaha.

By the way, Lex. Memang waktu ga kerasa ngobrol sama kamu. Sekarang udah 10.10, ini Devon udah  nyari-nyari tiket kita. Hahahah. Dasar Devon, anak ceroboh. Dia suka banget kelabakan kayak gitu, kayak aku zaman kuliah dulu. Hahahah, lucu liat dia panik gitu. Tiketnya kan di aku. Hahahahah, coba kamu bisa liat dia sekarang. Dia kan tadi kasih aku karena takut di dia ketinggalan atau keselip di mana gitu. Nah, abis ini pasti dia sadar. Coba kamu denger dia ngomong.

--Speaking Mode at 10.13--
“Heeey, aku baru inget. I gave you the tickets, didn’t I? Ah dasar kamuuu, dari tadi aku panik nyariin, kamunya diem aja. Dasarrrrr!” 

“Hahahahah salahmu sendiri yee. Makanya jangan keburu panik.”

“Yaa kan aku lupa, babe.” 

“Ya jangan lupaan makanya.” 

“Ihh apa sih, orang kamu juga lupaan.”

--Writing Mode at 10.15--
Nah. Lucu kan, dia? Kita ini kadang-kadang kayak anak kecil. Salah satu adegannya itu ya sama kayak yang kamu tulis di atas. Makanya, gemes liat Devon kalo dia kayak gitu. Memang dia nyenengin. Kalo kamu hidup dari dulu, tahun berapa ya itu. Sekitar 2015-2017 gitu, udah lupa, ada tren “Find a guy who can do both”. Nah itu trus dijelasin, cowok yang bisa diajak fun bareng, sama yang bisa serius dan jagain kamu. Anugerah terindah lagi dari Tuhan, aku dikasih satu yang kayak gitu. Bener-bener match sama aku lahir dan batin. Menurut aku kita perfect. Hahahah. Kepedean ya. Hmm, nggak juga sih, pede itu baik. Sometimes. Udah ah, naik pesawat dulu yeee, talk to you later.

--Writing Mode at 10.28--
Garuda Indonesia dari tahun ke tahun fasilitas dan pelayanannya makin meningkat. Meskipun cuma economy class, karena aku dan Devon nggak terlalu suka ngabis-ngabisin uang dalam perjalanan kayak gini, fasilitas dan pelayannya luar biasa. Kursinya nyesuain kondisi badan penumpang, ada tombol buat nyalain alat pemijat di berbagai tempat, juga nggak panas. Yahh.. Perubahan ini udah cukup lama sih. Cuma udah lama nggak naik Garuda, jadi baru inget dan mau cerita. Hmm.

Oiya, sekarang Penphone nggak perlu dinyalain flight mode kayak dulu, dia otomatis nyala kalo memang diperlukan, kayak sekarang. Nanti ingetin aku buat kasih tau sekretarisku kalo udah sampek sana ya. Hmm. Udah mulai bergerak pesawatnya. Untung Devon bukan tipe orang yang takut naik pesawat. Kan ada tuh, orang yang berapa kalipun naik, tetap aja takut waktu take off.

Yang semakin bikin aku cinta mati sama Devon itu bagaimana dia bisa memimpin aku di banyak bidang. Salah satunya barusan, waktu kita berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan. Ini yang awalnya juga menjadi daya tarik dia waktu kami pertama bertemu.
Hmm, Devon mau ngobrol. Nanti kita lanjut ngobrol yaa. Dia kan prioritas. Hahahah. Ttyl.

--Writing Mode at 13.15—
Dasar Devon. Dia tidur sekarang. Kasian, kemarin kurang tidur. Padahal udah aku ingetin, kan mau bangun pagi. Dianya yang bandel, baca sampek tengah malam. Kayak aku biasanya ya. Kemarin malamnya lagi aku tidur jam berapa inget, Lex? Kalo nggak salah jam 1 pagi. Hahahah, keasikan baca novel. Itu masih unpublished, karena aku salah satu beta-reader Colleen.

Untungnya buat aku dan para bookworms lain, paperbacks and hardcovers still exist. Biarpun sekarang teknologi udah segini majunya, buku masih bertahan. Ya bukan beruntung juga sih, ini kami-kami para bookworms dari seluruh dunia yang mewujudkan. Sekitar tahun 2021, keberadaan paperbacks sudah hampir punah. Semua digantikan dengan buku digital,­ e-Book. Waktu itu buku cetak untuk sekolah, kuliah, dan referensi lain sudah tidak ada yang dijual dalam kertas. Hanya novel-novel dan majalah yang masih bertahan, meskipun sudah sekarat.

Puji Tuhan, jumlah bookworms tidak makin menurun sejalannya waktu. Meskipun tetap tidak banyak, mungkin hanya sekitar 25% dari total populasi manusia di dunia. Tapi tetap saja, 25% dari 6 miliar orang itu tidaklah sedikit. Karena petisi-petisi dan ajuan kami untuk tetap menghidupkan paperbacks makin lama makin meningkat, akhirnya mereka para penguasa di bumi (hahahahahah) mendengarkan kami. Tentu saja, keberadaan buku fisik ini tidak merusak ozon atau mengurangi oksigen blah blah blah seperti yang dituduhkan mereka yang tidak menghargai ajaibnya sebuah buku. Kertas-kertas yang dipakai untuk mencetak buku kan dari pohon-pohon tua yang dengan cepat digantikan dengan benih-benih pohon baru. 

Kalo ngomongin soal buku, aku bisa lanjut sampek besokpun nggak selesai. Memang passion-ku di dunia ini ada di dunia IT dan buku. Dunia buku sudah kutekuni sejak SMP, sedangkan IT baru saat aku menempuh kuliah di Ubaya. 


Eh Lex, aku jadi ikutan ngantuk. Liatin kamu terus selama berapa lama ini udahan. Sekarang jam... hampir jam 2 siang. Hmm ya udah, aku tidur duluu. Nanti kita lanjutin ngobrol, kalo emang bangun sebelum sampek. Huahahah.

--Writing Mode at 18.05—
Hey. Barusan dibangunin Devon suruh makan. Perjalanan kan one way sekitar 25 jam. Jadi perkiraan sampek hmm... jam 12an siang besok. Berarti dikasih makanan 3 kali, hahahah. Aku sama Devon suka makanan pesawat, nggak tau kenapa. Ini malem dikasih ayam lada hitam. Devon suka lauk-lauk lada hitam. Ya udah, nanti lanjut waktu udah sampek aja yaa. CIAO!




Picture source: https://www.youtube.com

No comments:

Post a Comment